AI agent sekarang tidak harus berjalan di cloud atau membutuhkan API berbayar. Kita bisa membuat AI agent lokal yang menjalankan model LLM langsung di komputer sendiri, kemudian memberinya akses ke file, terminal, kode, dan workspace.
Salah satu stack yang praktis untuk Windows adalah:
Ollama + Qwen3 + Open WebUI + Open Terminal
Arsitekturnya kira-kira seperti ini:
KOMPUTER SENDIRI
│
▼
┌─────────────────┐
│ Ollama │
│ Local LLM │
└────────┬────────┘
│
▼
┌─────────────────┐
│ Qwen3 │
│ 4B / 8B │
└────────┬────────┘
│
▼
┌─────────────────┐
│ Open WebUI │
│ Chat + Agent │
└────────┬────────┘
│
▼
┌─────────────────┐
│ Open Terminal │
│ Files / Code │
│ Commands / Git │
└─────────────────┘
Ollama bertugas menjalankan model secara lokal, sedangkan Open WebUI menyediakan interface dan kemampuan agentic. Open Terminal memberikan lingkungan untuk menjalankan perintah, membaca/menulis file, menjalankan kode, dan melakukan pekerjaan multi-step. Open WebUI
Yang menarik, setelah seluruh komponen dan model sudah di-download, sistem ini bisa digunakan tanpa koneksi internet. Untuk benar-benar air-gapped, koneksi keluar juga perlu dibatasi dengan firewall atau isolasi jaringan karena OFFLINE_MODE Open WebUI sendiri tidak otomatis memblokir seluruh koneksi jaringan. Open WebUI
1. Apa yang Akan Kita Buat?
Target akhir tutorial:
- LLM berjalan di PC sendiri
- Tidak membutuhkan OpenAI API
- Tidak membutuhkan API key
- Tidak membutuhkan subscription
- Chat melalui browser
- Model bisa menggunakan tools
- Bisa membaca dan membuat file
- Bisa menjalankan command
- Bisa menjalankan Python
- Bisa membuat project
- Bisa melakukan debugging
- Bisa menggunakan Git
- Bisa bekerja pada folder workspace
- Bisa dibuat offline
- Bisa menggunakan GPU jika backend/hardware mendukungnya
Namun ada satu hal penting.
Local LLM biasa ≠ AI agent.
Contohnya:
LLM biasa:
User
↓
"buatkan program Python"
↓
LLM
↓
kode Python
Sedangkan agent:
User
↓
"Buatkan aplikasi Flask sederhana"
↓
AI membuat rencana
↓
membuat file
↓
menjalankan command
↓
menjalankan program
↓
membaca error
↓
memperbaiki kode
↓
menjalankan ulang
↓
verifikasi
↓
hasil akhir
Open WebUI menjelaskan agentic workflow sebagai loop memahami tujuan → memilih tindakan → menjalankan tindakan → mengamati hasil → memperbaiki/melanjutkan → memverifikasi. Open WebUI
2. Apakah Benar-Benar Gratis?
Ya, software stack yang digunakan dapat dijalankan tanpa biaya API:
| Komponen | Fungsi |
|---|---|
| Ollama | Menjalankan LLM lokal |
| Qwen3 | Model AI |
| Open WebUI | Interface dan agent harness |
| Open Terminal | Workspace dan execution environment |
| Docker Desktop | Container untuk Open WebUI/Open Terminal |
Tidak ada biaya per token seperti API cloud.
Tetapi tentu saja tetap ada:
- listrik
- kapasitas SSD
- RAM
- GPU/CPU
- waktu download model
Jadi gratis dari biaya API, bukan berarti tidak ada biaya hardware/listrik.
3. Spesifikasi Minimum
Spesifikasi sangat tergantung model yang digunakan.
Sebagai contoh, Qwen3 tersedia dalam beberapa ukuran. Qwen3 4B berukuran sekitar 2,5 GB, sedangkan Qwen3 8B sekitar 5,2 GB dalam varian yang tersedia di Ollama. Qwen3 juga memiliki varian 14B, 30B, 32B dan 235B. Ollama
Minimum untuk sekadar mencoba
| Komponen | Minimum |
|---|---|
| CPU | 4 core |
| RAM | 8 GB |
| Storage kosong | 15-20 GB |
| GPU | Tidak wajib |
| VRAM | Tidak wajib |
| OS | Windows 10/11 64-bit |
| Internet | Dibutuhkan saat instalasi/download |
Untuk AI agent, saya tidak menyarankan 8 GB RAM jika ingin workflow yang cukup kompleks.
Minimum yang lebih masuk akal
CPU : 6 core
RAM : 16 GB
SSD : 50 GB kosong
GPU : 6-8 GB VRAM
Model : 4B-8B
Ini jauh lebih nyaman untuk coding, dokumen dan automation sederhana.
4. Spesifikasi Recommended
Untuk penggunaan serius:
CPU : Ryzen 5 / Core i5 atau lebih tinggi
RAM : 32 GB
SSD : NVMe 1 TB
GPU : 12-16 GB VRAM
Model : 8B-14B
Untuk model yang lebih besar:
RAM : 64 GB+
GPU : 24 GB VRAM+
Model : 30B+
Model besar membutuhkan resource jauh lebih besar. Sebagai gambaran, Ollama mencantumkan Qwen3 14B sekitar 9,3 GB, 30B sekitar 19 GB, dan 32B sekitar 20 GB untuk varian yang tersedia di registry. Ollama
Jangan melihat ukuran file model saja.
Misalnya:
Model 8B
↓
5,2 GB file
↓
belum berarti hanya membutuhkan 5,2 GB RAM
Runtime, context, KV cache, OS, Docker, Open WebUI dan tools juga membutuhkan memory.
5. Apakah GPU Wajib?
Tidak.
LLM lokal dapat berjalan menggunakan:
CPU
GPU
CPU + GPU
Namun GPU sangat membantu performa.
Secara sederhana:
CPU only
████░░░░░░ lambat
GPU
████████░░ jauh lebih cepat
Untuk model 8B, GPU dengan VRAM sekitar 8 GB sudah cukup menarik untuk eksperimen local AI.
Jika GPU tidak cukup besar, sebagian pekerjaan dapat tetap menggunakan RAM/CPU, tetapi performanya bisa turun.
6. Software yang Dibutuhkan
Kita akan menggunakan:
1. Ollama
Runtime untuk menjalankan LLM lokal.
2. Qwen3
Model LLM yang mendukung tool calling dan tersedia dalam berbagai ukuran di Ollama. Qwen3 8B, misalnya, tersedia sebagai model sekitar 5,2 GB dan menggunakan lisensi Apache 2.0 pada halaman Ollama tersebut. Ollama
3. Docker Desktop
Untuk menjalankan Open WebUI dan Open Terminal secara terisolasi.
4. Open WebUI
Interface AI lokal.
Open WebUI mendukung Ollama dan berbagai provider lain, serta dapat berjalan sepenuhnya self-hosted. Open WebUI
5. Open Terminal
Bagian yang membuat Open WebUI menjadi agent harness dengan filesystem dan terminal untuk menjalankan pekerjaan nyata. Open WebUI
7. STEP 1: Install Ollama
Pertama install Ollama di Windows.
Download installer Ollama dari situs resminya:
Setelah selesai install, buka:
PowerShell
Kemudian:
ollama --version
Jika berhasil akan muncul versi Ollama.
Contoh:
ollama version ...
Jika command tidak dikenali:
- tutup PowerShell
- buka PowerShell baru
- coba lagi
8. STEP 2: Download Model LLM
Untuk tutorial ini kita menggunakan:
qwen3:8b
Jalankan:
ollama pull qwen3:8b
Tunggu sampai selesai.
Model sekitar 5,2 GB perlu didownload terlebih dahulu. Ollama
Setelah selesai cek:
ollama list
Seharusnya muncul:
NAME
qwen3:8b
9. STEP 3: Tes LLM
Jalankan:
ollama run qwen3:8b
Kemudian coba:
Halo, jelaskan apa itu Python.
Kalau model menjawab berarti:
Windows
↓
Ollama
↓
Qwen3
↓
BERHASIL
Untuk keluar:
/bye
10. STEP 4: Tes Ollama API
Ollama menyediakan API lokal. Halaman model Qwen3 di Ollama juga menyediakan contoh penggunaan API melalui endpoint lokal localhost:11434. Ollama
Cek:
curl http://localhost:11434/api/tags
Jika berhasil, komputer akan mengembalikan daftar model.
Artinya server Ollama berjalan.
Secara default konsepnya:
http://localhost:11434
11. STEP 5: Install Docker Desktop
Download Docker Desktop:
Install seperti biasa.
Kemudian restart Windows jika diminta.
Buka Docker Desktop dan pastikan statusnya:
Docker Desktop
│
└── Running
Open WebUI secara resmi mendukung Windows dan Docker direkomendasikan untuk banyak instalasi. Open WebUI
12. STEP 6: Jalankan Open WebUI
Buka PowerShell.
Jalankan:
docker run -d `
-p 3000:8080 `
--add-host=host.docker.internal:host-gateway `
-v open-webui:/app/backend/data `
-e WEBUI_SECRET_KEY=local-ai-secret-key `
--name open-webui `
--restart always `
ghcr.io/open-webui/open-webui:main
Jika PowerShell bermasalah dengan format multi-line, gunakan satu baris:
docker run -d -p 3000:8080 --add-host=host.docker.internal:host-gateway -v open-webui:/app/backend/data -e WEBUI_SECRET_KEY=local-ai-secret-key --name open-webui --restart always ghcr.io/open-webui/open-webui:main
Command tersebut mengikuti pola deployment resmi Open WebUI. Open WebUI
13. STEP 7: Buka Open WebUI
Buka browser:
http://localhost:3000
Akan muncul halaman Open WebUI.
Buat akun administrator lokal.
Setelah login, kita sudah mempunyai:
Browser
↓
Open WebUI
↓
Ollama
↓
Qwen3
14. STEP 8: Hubungkan Open WebUI dengan Ollama
Dalam Docker, koneksi Ollama host biasanya menggunakan:
http://host.docker.internal:11434
Open WebUI memang mendokumentasikan alamat tersebut untuk Ollama yang berjalan di host ketika Open WebUI dijalankan dalam Docker. Open WebUI
Masuk:
Settings
↓
Admin Settings
↓
Connections
↓
Ollama
Gunakan:
http://host.docker.internal:11434
Kemudian save.
Jika berhasil, model:
qwen3:8b
akan muncul.
15. STEP 9: Tes Chat
Buat chat baru.
Pilih:
qwen3:8b
Kemudian:
Jelaskan konsep penetration testing
dengan struktur:
1. reconnaissance
2. enumeration
3. vulnerability assessment
4. exploitation
5. reporting
Jika mendapat jawaban:
LLM lokal sudah berhasil.
Tapi...
Kita belum mempunyai agent sepenuhnya.
16. LLM vs AI Agent
Ini bagian paling penting.
LLM
User
↓
Prompt
↓
AI
↓
Jawaban
AI Agent
User
↓
Goal
↓
AI berpikir
↓
Pilih tool
↓
Eksekusi
↓
Baca hasil
↓
Analisis
↓
Tool berikutnya
↓
Verifikasi
↓
Hasil
Open WebUI sendiri membedakan model provider biasa dengan autonomous AI agent yang membawa tools seperti terminal, file operations, web search, memory, dan skills. Open WebUI
17. STEP 10: Install Open Terminal
Open Terminal memberikan agent lingkungan nyata untuk:
- membaca file
- membuat file
- menjalankan command
- menjalankan script
- menjalankan Git
- menjalankan server
- membaca output
- memperbaiki error
- mengulangi proses
Open WebUI menyebut Open Terminal sebagai execution environment untuk agent dan dapat dijalankan dalam Docker sebagai boundary/sandbox. Open WebUI
Jalankan:
docker run -d `
--name open-terminal `
--restart unless-stopped `
-p 8000:8000 `
-v open-terminal:/home/user `
-e OPEN_TERMINAL_API_KEY=local-agent-key `
ghcr.io/open-webui/open-terminal
Atau satu baris:
docker run -d --name open-terminal --restart unless-stopped -p 8000:8000 -v open-terminal:/home/user -e OPEN_TERMINAL_API_KEY=local-agent-key ghcr.io/open-webui/open-terminal
Open WebUI mendokumentasikan deployment Open Terminal menggunakan Docker dengan pola ini. Open WebUI
18. STEP 11: Hubungkan Open Terminal
Setelah container berjalan:
docker ps
Harus terlihat kira-kira:
open-webui
open-terminal
Kemudian masuk Open WebUI.
Cari pengaturan:
Settings
→ Admin
→ Connections / Tools
Hubungkan Open Terminal sesuai konfigurasi instalasi Open WebUI.
Tujuannya adalah membuat:
Qwen3
│
▼
Open WebUI
│
▼
Open Terminal
│
├── filesystem
├── shell
├── Python
├── Git
└── process
Open WebUI menjelaskan bahwa Open Terminal menyediakan tools seperti run_command, read_file, write_file, grep_search, glob_search, dan process management. Open WebUI
19. STEP 12: Pastikan Native Tool Calling Aktif
Ini sangat penting.
Open WebUI sekarang menggunakan Native Tool Calling / Agentic Mode sebagai mode default untuk model yang mendukungnya. Mode ini memungkinkan model menghasilkan structured tool calls, kemudian Open WebUI menjalankan tool tersebut dan mengembalikan hasilnya ke model. Open WebUI
Cari:
Settings
→ Admin
→ Models
→ qwen3:8b
→ Advanced Parameters
Pastikan:
Function Calling
= Native
Jangan menggunakan Legacy kecuali memang ada alasan kompatibilitas.
20. STEP 13: Buat Workspace Agent
Buat folder khusus.
Misalnya:
C:\AI-Agent\
Kemudian:
C:\AI-Agent\
│
├── projects\
├── documents\
├── output\
└── workspace\
Jangan langsung memberikan agent akses ke:
C:\
atau seluruh filesystem.
Lebih aman memberikan area kerja khusus.
21. STEP 14: Tes Agent Pertama
Sekarang berikan prompt:
Buat sebuah file hello.py di workspace.
Isi file dengan program Python sederhana
yang mencetak:
Hello from my local AI agent
Setelah itu jalankan program tersebut
dan tampilkan hasilnya.
Agent seharusnya melakukan:
1. memahami instruksi
2. membuat hello.py
3. menjalankan Python
4. membaca output
5. memberikan hasil
Jika berhasil:
Selamat, Anda sudah mempunyai local AI agent. 🤖
22. Tes Kedua: Coding Agent
Coba:
Buat aplikasi Flask sederhana.
Requirements:
- Python
- Flask
- halaman /
- halaman /about
- desain sederhana
- struktur project yang rapi
Buat semua file yang dibutuhkan.
Kemudian jalankan aplikasi.
Jika terjadi error, baca error tersebut,
perbaiki kode dan jalankan kembali.
Agent akan mempunyai workflow:
Plan
↓
Create files
↓
Install dependency
↓
Run Flask
↓
Read error
↓
Fix
↓
Run again
↓
Verify
Inilah perbedaan utama dengan chatbot biasa.
23. Tes Ketiga: AI Coding Assistant Lokal
Misalnya ada project:
C:\AI-Agent\projects\web-checker\
Berikan:
Analisis project ini.
Cari:
- struktur aplikasi
- dependency
- entry point
- potensi error
- file yang redundant
- konfigurasi yang bermasalah
Jangan mengubah file terlebih dahulu.
Berikan laporan terlebih dahulu.
Ini penting karena agent tidak selalu harus langsung melakukan perubahan.
Gunakan workflow:
READ
↓
ANALYZE
↓
REPORT
↓
APPROVE
↓
MODIFY
24. Tes Keempat: Debugging Otomatis
Setelah agent membaca project:
Jalankan test project ini.
Jika test gagal:
1. baca error
2. cari penyebab
3. perbaiki kode
4. jalankan test kembali
5. ulangi sampai berhasil
Jangan menghapus test untuk membuatnya pass.
Ini jauh lebih dekat dengan workflow software engineering agent.
25. Tes Kelima: Analisis Dataset
Misalnya punya:
data.csv
Prompt:
Analisis data.csv.
Lakukan:
1. cek jumlah row
2. cek jumlah kolom
3. cek missing value
4. cek duplicate
5. tampilkan statistik dasar
6. buat visualisasi
7. simpan hasil ke output/report
Agent bisa:
CSV
↓
Python
↓
Pandas
↓
Analisis
↓
Matplotlib
↓
Report
Open Terminal memang dirancang untuk workflow seperti analisis spreadsheet/data, document processing, software development dan automation. Open WebUI
26. Apakah Bisa Membuat Website?
Bisa.
Misalnya:
Buat landing page perusahaan
menggunakan HTML, CSS dan JavaScript.
Requirement:
- responsive
- mobile friendly
- navbar
- hero section
- services
- about
- contact
- footer
Buat seluruh file di workspace.
Jalankan local server.
Periksa apakah tidak ada error.
Agent dapat:
index.html
style.css
script.js
kemudian menjalankan local server.
27. Apakah Bisa Menjalankan Python?
Bisa.
Contoh:
Buat script Python untuk membaca
semua file CSV di folder data,
menggabungkannya menjadi satu dataset,
menghapus duplicate,
dan menyimpan hasil ke output/final.csv.
Agent kemudian dapat membuat dan menjalankan script tersebut di execution environment.
28. Apakah Bisa Git?
Bisa jika Git tersedia di environment agent.
Misalnya:
Clone repository ini ke workspace.
Setelah selesai:
- analisis struktur
- install dependency
- jalankan test
- jangan push perubahan
- buat laporan hasil analisis
Untuk pekerjaan berisiko seperti:
git push
git reset --hard
rm
delete
database migration
lebih baik menggunakan approval manual.
29. Jangan Langsung Memberikan Full Access
Ini sangat penting.
AI agent yang memiliki terminal bukan lagi sekadar chatbot.
Ia dapat melakukan perubahan nyata.
Misalnya:
AI
↓
run_command
↓
rm file
Karena itu gunakan sandbox/workspace.
Open WebUI juga membedakan Open Terminal yang terisolasi melalui Docker dengan mode bare-metal yang memberikan akses langsung ke host. Open WebUI
Untuk pemula:
Docker sandbox
↓
LEBIH AMAN
daripada:
Agent
↓
akses seluruh Windows
30. Konfigurasi Offline
Setelah semuanya bekerja, kita bisa menyiapkan Open WebUI untuk offline mode.
Open WebUI menyediakan:
OFFLINE_MODE=true
Mode tersebut menghentikan beberapa koneksi otomatis seperti update check dan download model embedding. Namun OFFLINE_MODE bukan firewall. External API, web search, tool server, dan koneksi lain yang dikonfigurasi masih dapat melakukan koneksi jika jaringan mengizinkannya. Open WebUI
Jadi konsepnya:
OFFLINE_MODE
+
Firewall / network isolation
+
Local model
+
Local tools
=
True offline environment
31. Contoh Docker Open WebUI Offline
Jika ingin menjalankan Open WebUI dengan offline mode:
docker run -d `
-p 3000:8080 `
--add-host=host.docker.internal:host-gateway `
-v open-webui:/app/backend/data `
-e WEBUI_SECRET_KEY=local-ai-secret-key `
-e OFFLINE_MODE=true `
--name open-webui `
--restart always `
ghcr.io/open-webui/open-webui:main
Setelah model dan seluruh dependency sudah tersedia secara lokal, internet dapat diputus.
Tetapi jangan mengaktifkan offline mode sebelum semua model/dependency yang diperlukan selesai didownload. Open WebUI memperingatkan bahwa model embedding atau dependency yang belum tersedia dapat menyebabkan fitur tertentu gagal ketika offline. Open WebUI
32. Kalau Mau Benar-Benar Air-Gapped
Untuk keamanan lebih tinggi:
Internet
X
│
Firewall
│
┌──▼───────────────────┐
│ Local AI Computer │
│ │
│ Ollama │
│ Qwen3 │
│ Open WebUI │
│ Open Terminal │
│ Local files │
└──────────────────────┘
Pastikan:
Cloud LLM OFF
Web Search OFF
Cloud embedding OFF
External API OFF
OAuth OFF
Telemetry/update sesuai kebutuhan
Dan gunakan:
localhost
untuk layanan lokal.
Untuk lingkungan yang benar-benar terisolasi, dokumentasi Open WebUI menyarankan network-level isolation/firewall selain OFFLINE_MODE. Open WebUI
33. Model Apa yang Sebaiknya Dipakai?
Untuk komputer dengan resource terbatas:
Qwen3 4B
ollama pull qwen3:4b
Ukuran sekitar:
2.5 GB
Cocok untuk:
- chat
- coding sederhana
- automation ringan
- eksperimen agent
Qwen3 8B
ollama pull qwen3:8b
Sekitar:
5.2 GB
Lebih cocok sebagai titik awal untuk:
- coding
- reasoning
- tool calling
- agent sederhana
- dokumen
- automation
Qwen3 14B
ollama pull qwen3:14b
Sekitar:
9.3 GB
Membutuhkan resource lebih besar. Ollama
34. Kenapa Tidak Langsung Pakai 30B?
Karena:
30B
≈ 19 GB model
saja sudah besar.
Kemudian masih membutuhkan:
OS
+
runtime
+
context
+
KV cache
+
Open WebUI
+
Docker
+
tools
Jadi komputer dengan:
16 GB RAM
tidak ideal untuk model sebesar itu.
Untuk PC mainstream:
4B → ringan
8B → sweet spot
14B → mulai berat
30B → membutuhkan hardware serius
35. Context Length
Jangan otomatis mengatur context terlalu besar.
Misalnya:
2048
8192
16384
32768
Context yang semakin besar dapat membutuhkan memory lebih banyak.
Open WebUI juga memperingatkan bahwa context yang terlalu kecil dapat mengganggu native tool calling karena schema tools ikut masuk ke context. Dokumentasinya memberikan contoh 8192 atau 16384 sebagai nilai yang lebih realistis tergantung hardware/model. Open WebUI
Untuk awal:
8192
adalah titik yang masuk akal untuk diuji.
Kalau RAM/VRAM masih aman:
16384
bisa dicoba.
36. Setting Agent yang Saya Sarankan
Untuk local agent pemula:
Model:
Qwen3 8B
Context:
8192
Function Calling:
Native
Temperature:
default
Workspace:
C:\AI-Agent\workspace
Internet:
OFF
Cloud API:
OFF
Kemudian agent diberi tools:
read_file
write_file
run_command
grep_search
glob_search
Open Terminal menyediakan jenis tool tersebut untuk agent. Open WebUI
37. Prompt System untuk Local Coding Agent
Anda juga bisa memberikan system prompt:
You are a local software engineering AI agent.
Rules:
1. Work only inside the assigned workspace.
2. Never access files outside the workspace unless explicitly authorized.
3. Before modifying important files, explain what will be changed.
4. Never delete files unless explicitly requested.
5. Never run destructive commands without confirmation.
6. Inspect existing files before modifying them.
7. Run tests after making code changes.
8. If a command fails, inspect the error before retrying.
9. Never hide errors.
10. Never claim a task is complete without verification.
11. Prefer simple and maintainable solutions.
12. Keep track of files you create or modify.
13. For security-sensitive operations, ask for confirmation.
14. Do not expose secrets, API keys, passwords, or private credentials.
Ini bukan pengganti security boundary, tetapi membantu membentuk perilaku agent.
38. Contoh Workflow AI Agent untuk Cybersecurity
Karena local agent juga menarik untuk cybersecurity, kita bisa membuat workflow seperti:
Project
↓
Source Code
↓
AI Agent
↓
Static Analysis
↓
Dependency Check
↓
Configuration Review
↓
Report
Contoh prompt aman:
Analisis source code aplikasi ini secara defensif.
Cari:
- hardcoded secret
- insecure configuration
- dependency yang mencurigakan
- SQL injection pattern
- XSS pattern
- command injection pattern
- authentication weakness
- security headers
Jangan melakukan eksploitasi terhadap sistem eksternal.
Buat laporan:
- file
- line
- masalah
- severity
- alasan
- rekomendasi
Untuk lab milik sendiri, agent juga bisa membantu menjalankan testing di environment lokal yang memang Anda miliki.
39. Contoh Workflow untuk SIBRA Tech
Misalnya mempunyai folder:
sibra-project/
Agent dapat diminta:
Analisis project website SIBRA.
Tugas:
1. baca seluruh struktur project
2. identifikasi framework
3. cek dependency
4. cek konfigurasi
5. cek SEO dasar
6. cek security headers
7. cek responsive layout
8. jalankan project
9. identifikasi error
10. buat laporan
Kemudian:
Jangan mengubah file.
Setelah laporan selesai,
tunggu persetujuan saya.
Setelah Anda review:
Terapkan perbaikan yang sudah disetujui.
Setelah selesai jalankan test dan verifikasi.
Ini jauh lebih aman daripada:
"perbaiki semuanya"
40. Troubleshooting
Ollama tidak ditemukan
Coba:
ollama --version
Jika gagal:
- restart PowerShell
- restart Windows
- pastikan Ollama sudah terinstall
Model tidak muncul
Cek:
ollama list
Jika kosong:
ollama pull qwen3:8b
Open WebUI tidak bisa konek Ollama
Dari Docker gunakan:
http://host.docker.internal:11434
bukan:
http://localhost:11434
untuk koneksi dari container ke Ollama yang berjalan di Windows host. Open WebUI
Agent tidak menggunakan tool
Periksa:
Function Calling
↓
Native
Kemudian pastikan model memang mampu melakukan tool calling dengan baik.
Open WebUI mencatat bahwa kemampuan model untuk menghasilkan tool call tidak otomatis berarti model tersebut akan memilih dan menggunakan tool secara andal. Open WebUI
41. Agent Lambat
Kalau lambat:
Turunkan model
8B → 4B
Kurangi context
16384 → 8192
Gunakan GPU
Jika backend/hardware mendukung GPU acceleration.
Kurangi aplikasi background
Misalnya:
Chrome 30 tab
+
Docker
+
VS Code
+
game
+
LLM
akan menghabiskan RAM dengan cepat.
42. RAM 16 GB Apakah Cukup?
Untuk eksperimen:
Ya.
Tetapi jangan berharap menjalankan:
LLM besar
+
Docker
+
browser banyak tab
+
VS Code
+
database
+
agent
secara nyaman sekaligus.
Untuk local AI agent:
16 GB
██████░░░░
32 GB
█████████░
64 GB
██████████
32 GB memberikan ruang jauh lebih besar untuk workflow agentic.
43. Storage yang Dibutuhkan
Minimal:
Ollama
~ beberapa GB
Qwen3 8B
~5.2 GB
Docker
beberapa GB
Open WebUI
beberapa GB
Workspace
tergantung project
Saya menyarankan:
Minimal:
50 GB free
Recommended:
100 GB+ free
Kalau ingin menyimpan beberapa model:
Qwen3 4B
Qwen3 8B
Qwen3 14B
coding model
embedding model
Whisper
storage bisa cepat habis.
44. Setup Final
Setelah semuanya selesai, arsitektur akhirnya:
WINDOWS PC
│
┌────────────┴────────────┐
│ │
Ollama Docker
│ │
▼ ▼
Qwen3 ┌──────────────┐
8B/14B │ Open WebUI │
└──────┬───────┘
│
▼
┌──────────────┐
│Open Terminal │
└──────┬───────┘
│
┌───────────────────┼─────────────────┐
▼ ▼ ▼
Files Python Git
│ │ │
└───────────────────┼─────────────────┘
▼
AI AGENT
Hasilnya:
LOCAL
FREE
PRIVATE
OFFLINE CAPABLE
NO API KEY
NO SUBSCRIPTION
45. Checklist Sampai Berhasil
Gunakan checklist ini:
[ ] Windows siap
[ ] Ollama terinstall
[ ] ollama --version berhasil
[ ] Qwen3 terdownload
[ ] ollama run qwen3:8b berhasil
[ ] Docker Desktop terinstall
[ ] Docker berjalan
[ ] Open WebUI berjalan
[ ] localhost:3000 bisa dibuka
[ ] Open WebUI terhubung ke Ollama
[ ] Qwen3 muncul di Open WebUI
[ ] Chat berhasil
[ ] Open Terminal terinstall
[ ] Open Terminal terhubung
[ ] Native Tool Calling aktif
[ ] Workspace dibuat
[ ] Agent bisa membuat file
[ ] Agent bisa membaca file
[ ] Agent bisa menjalankan command
[ ] Agent bisa menjalankan Python
[ ] Agent bisa membaca error
[ ] Agent bisa memperbaiki error
[ ] Offline mode disiapkan
[ ] Firewall/network isolation dikonfigurasi
Kalau semua checklist sudah tercentang, Anda sudah mempunyai AI agent lokal yang dapat bekerja di komputer sendiri, bukan sekadar chatbot lokal.
SIBRA TECH: Bangun AI Agent dan Automation Lokal
Tidak semua kebutuhan AI harus bergantung pada API cloud.
Untuk kebutuhan perusahaan, UMKM, developer, maupun tim cybersecurity, local AI dapat dikembangkan menjadi workflow yang lebih spesifik seperti:
- AI coding agent
- automation lokal
- document processing
- data analysis
- local RAG
- AI untuk internal knowledge base
- workflow automation
- custom AI tools
- cybersecurity assistant
- website development
- custom software
- data scraping dan automation
- integrasi AI dengan sistem internal
SIBRA TECH dapat membantu merancang dan mengembangkan solusi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, mulai dari website, software custom, automation, data processing, sampai implementasi cybersecurity dan AI workflow.
Jika kebutuhan Anda bukan sekadar “install ChatGPT lokal”, tetapi ingin AI agent yang benar-benar mengerjakan pekerjaan tertentu secara otomatis di environment sendiri, arsitekturnya bisa dirancang mulai dari model, tools, sandbox, database, RAG, sampai workflow automation.
Diskusi & Komentar