Deface atau website defacement adalah salah satu bentuk serangan terhadap website ketika penyerang berhasil mengubah tampilan atau konten halaman web tanpa izin pemiliknya.

Contoh paling sederhana adalah ketika sebuah website yang seharusnya menampilkan halaman:

Website Perusahaan
Tentang Kami
Produk
Kontak

tiba-tiba berubah menjadi:

HACKED BY XXXXX

disertai gambar, pesan, propaganda, atau konten lain yang dibuat oleh penyerang.

Namun, deface bukan sekadar mengganti tulisan di halaman depan website. Di balik perubahan tampilan tersebut biasanya terdapat masalah keamanan yang lebih serius, seperti akun administrator yang diambil alih, kerentanan aplikasi web, kredensial yang bocor, konfigurasi server yang lemah, atau kompromi pada hosting dan infrastruktur.

CISA memasukkan website defacement sebagai salah satu bentuk serangan terhadap web server dan menjelaskan bahwa situs yang dikompromikan juga dapat dimanfaatkan untuk aktivitas berbahaya lain, termasuk distribusi malware atau menyerang sistem eksternal. CISA


Apa Itu Deface?

Deface berasal dari istilah defacement, yaitu tindakan mengubah tampilan atau konten suatu website secara tidak sah.

Dalam konteks cybersecurity, website defacement dapat terjadi ketika pihak yang tidak berwenang memperoleh kemampuan untuk mengubah:

  • HTML
  • CSS
  • JavaScript
  • template
  • file website
  • database yang berisi konten
  • CMS
  • halaman login
  • konfigurasi web
  • DNS atau layer infrastruktur tertentu

Tujuannya dapat bermacam-macam.

Misalnya:

  • menunjukkan bahwa website berhasil ditembus
  • menyampaikan pesan tertentu
  • propaganda
  • vandalisme digital
  • mempermalukan pemilik website
  • mengklaim keberhasilan serangan
  • mengarahkan pengunjung ke situs lain
  • menyisipkan phishing
  • menyebarkan malware

MITRE ATT&CK mengategorikan Defacement sebagai teknik T1491. Dalam konteks tersebut, adversary dapat memodifikasi konten visual yang tersedia secara internal maupun eksternal untuk menyampaikan pesan, melakukan intimidasi, atau mengklaim keberhasilan intrusi. CISA


Contoh Website yang Terkena Deface

Misalnya sebuah website memiliki halaman:

https://example.com

Sebelum serangan:

+--------------------------------+
|        EXAMPLE COMPANY         |
|                                |
| Home | About | Services | FAQ |
|                                |
| Welcome to our website         |
+--------------------------------+

Setelah terkena deface:

+--------------------------------+
|          HACKED                |
|                                |
|      YOUR WEBSITE IS           |
|        COMPROMISED             |
|                                |
|        [MESSAGE]               |
+--------------------------------+

Pengunjung kemudian melihat halaman yang berbeda dari tampilan resmi.

Tetapi perubahan visual tersebut hanyalah gejala yang terlihat.

Pertanyaan cybersecurity yang jauh lebih penting adalah:

Bagaimana penyerang mendapatkan kemampuan untuk mengubah website tersebut?


Deface Bukan Berarti "Website Hilang"

Ada kesalahpahaman bahwa website yang terkena deface berarti seluruh server sudah dihancurkan.

Tidak selalu.

Deface dapat berupa perubahan terhadap:

  • satu halaman
  • homepage
  • beberapa file
  • template
  • database
  • seluruh website
  • DNS atau domain pada kasus tertentu

Misalnya:

Website
├── index.html       ← diubah
├── about.html
├── contact.html
└── assets/

Website mungkin masih dapat diakses, tetapi homepage sudah diganti.

Pada kasus yang lebih serius:

Website
├── CMS
├── Database
├── Upload directory
├── Admin account
└── Server

beberapa komponen sekaligus dapat dikompromikan.


Bagaimana Deface Bisa Terjadi?

Tidak ada satu metode tunggal.

Defacement merupakan hasil akhir, sedangkan jalur menuju hasil tersebut dapat berbeda-beda.

Secara sederhana:

Vulnerability / Credential Compromise
              ↓
       Initial Access
              ↓
       Privilege / Access
              ↓
      Modify Website
              ↓
          DEFACE

Berikut beberapa penyebab yang umum.


1. Kerentanan pada CMS

Website yang menggunakan CMS seperti WordPress, Joomla, Drupal, atau platform lain dapat menjadi target ketika:

  • core belum diperbarui
  • plugin rentan
  • theme rentan
  • konfigurasi tidak aman
  • komponen pihak ketiga memiliki vulnerability

Jika kerentanan memungkinkan penyerang memperoleh kemampuan yang cukup, website dapat dimodifikasi.

Karena itu update bukan sekadar fitur tambahan.

Patch management merupakan bagian penting dari keamanan website.


2. Plugin atau Extension Rentan

Plugin menambahkan fungsi pada website.

Misalnya:

WordPress
   ↓
Plugin A
Plugin B
Plugin C
Plugin D

Jika salah satu plugin memiliki vulnerability dan website belum diperbarui, komponen tersebut dapat menjadi titik masuk.

Semakin banyak komponen pihak ketiga, semakin penting proses:

  • inventory
  • update
  • vulnerability monitoring
  • penghapusan plugin yang tidak digunakan

3. Password Administrator Bocor

Tidak semua deface membutuhkan eksploitasi vulnerability teknis.

Serangan dapat dimulai dari credential compromise.

Contohnya:

Admin Account
      ↓
Password leaked
      ↓
Attacker gains access
      ↓
CMS dashboard
      ↓
Modify website

Password dapat bocor melalui berbagai skenario, misalnya:

  • phishing
  • credential reuse
  • malware
  • password database breach
  • password terlalu sederhana
  • kebocoran dari layanan lain

Karena itu keamanan akun administrator sama pentingnya dengan keamanan aplikasi.


4. Tidak Menggunakan MFA

Jika administrator hanya menggunakan:

Username + Password

kompromi password dapat menjadi masalah serius.

MFA menambahkan faktor autentikasi tambahan.

Contohnya:

Password
   +
Authenticator
   ↓
Login

MFA tidak membuat akun mustahil ditembus, tetapi dapat menambah lapisan pertahanan terhadap sebagian skenario kompromi kredensial.


5. Vulnerability pada Web Application

Website custom juga dapat mengalami vulnerability.

Contohnya:

  • SQL Injection
  • XSS
  • file upload vulnerability
  • authentication flaws
  • authorization flaws
  • command injection
  • path traversal
  • insecure file handling

Tidak semua vulnerability tersebut otomatis menghasilkan deface.

Dampaknya tergantung pada vulnerability, privilege yang diperoleh, konfigurasi sistem, dan kondisi aplikasi.


6. File Upload yang Tidak Aman

Fitur upload dapat menjadi titik risiko jika aplikasi tidak membatasi:

  • jenis file
  • ukuran file
  • lokasi penyimpanan
  • permission
  • eksekusi file
  • nama file
  • validasi konten

Misalnya sebuah aplikasi memiliki:

Upload Foto

tetapi implementasinya tidak aman.

Jika penyerang dapat menyalahgunakan mekanisme tersebut untuk mendapatkan kemampuan menjalankan atau memodifikasi file server, website dapat berisiko dikompromikan.

Karena itu file upload harus diperlakukan sebagai fitur berisiko tinggi dalam security assessment.


7. Server atau Hosting yang Tidak Aman

Masalah tidak selalu berada di aplikasi.

Layer infrastructure juga penting.

Contohnya:

Internet
   ↓
DNS
   ↓
CDN
   ↓
Web Server
   ↓
Web Application
   ↓
Database

Kompromi dapat berasal dari berbagai layer.

OWASP bahkan mendokumentasikan skenario front-end defacement atau compromise yang dapat berasal dari hosting account, CDN, registrar, maupun build pipeline, sehingga keamanan website tidak boleh hanya berfokus pada source code aplikasi. OWASP Smart Contract Security


8. Kebocoran Credential melalui Repository

Developer terkadang tanpa sengaja memasukkan informasi sensitif ke repository.

Misalnya:

.env
config.php
database.yml
application secrets
API keys

Jika repository bersifat publik dan credential masih aktif, informasi tersebut dapat menjadi risiko.

Praktik yang lebih aman adalah:

Source Code
     ↓
Secret Management
     ↓
Environment Variables
     ↓
Application

Bukan menyimpan credential langsung di source code.


9. Supply Chain Attack

Website modern sering bergantung pada banyak komponen.

Contohnya:

Website
 ├── CMS
 ├── Plugin
 ├── Theme
 ├── npm package
 ├── CDN
 ├── CI/CD
 └── Third-party service

Jika salah satu bagian supply chain dikompromikan, dampaknya dapat menjalar ke sistem yang bergantung padanya.

Karena itu keamanan website modern tidak cukup hanya memeriksa halaman depan.


10. Kompromi DNS atau Domain Account

Dalam beberapa skenario, masalah dapat terjadi pada layer domain.

Jika attacker memperoleh kontrol terhadap DNS, mereka dapat mengarahkan domain ke infrastructure lain.

Contohnya:

example.com
      ↓
DNS
      ↓
Attacker-controlled server

Pengunjung tetap mengetik domain resmi, tetapi mendapatkan konten dari infrastructure yang dikendalikan pihak lain.

OWASP mencatat bahwa compromise pada layer registrar atau DNS dapat menghasilkan front-end phishing yang terlihat berasal dari domain yang dipercaya pengguna. OWASP Smart Contract Security

Ini berbeda secara teknis dari modifikasi file website di server, tetapi dari sisi pengguna dapat terlihat seperti website resmi telah "diganti".


Jenis-Jenis Deface

Defacement dapat dikategorikan berdasarkan objek atau dampaknya.

1. Homepage Defacement

Homepage utama diganti.

Ini merupakan bentuk yang paling mudah terlihat.

example.com
      ↓
Homepage
      ↓
Modified

2. Single Page Defacement

Hanya satu halaman tertentu yang dimodifikasi.

Contohnya:

example.com/about

sementara halaman lain masih normal.


3. Mass Defacement

Banyak website atau banyak halaman mengalami perubahan.

Ini dapat terjadi ketika penyerang memperoleh akses terhadap infrastructure yang menaungi beberapa situs atau menemukan kelemahan yang sama pada banyak target.


4. Database-Based Defacement

Website menggunakan database untuk menampilkan konten.

Jika konten database berhasil dimodifikasi:

Database
   ↓
Website
   ↓
Modified content

maka halaman yang terlihat oleh pengguna juga dapat berubah.


5. DNS-Level Hijacking

Pada kasus tertentu, yang dimodifikasi bukan file website, melainkan konfigurasi DNS atau kontrol domain.

Akibatnya domain dapat diarahkan ke server lain.


Deface vs Hacking

Keduanya bukan istilah yang identik.

Hacking merupakan istilah luas untuk berbagai aktivitas yang berkaitan dengan sistem komputer.

Deface lebih spesifik pada perubahan tampilan atau konten sistem, biasanya website, tanpa otorisasi.

Hubungannya dapat digambarkan:

Cyber Attack
     ↓
Unauthorized Access
     ↓
Compromise
     ↓
Modify Web Content
     ↓
Defacement

Jadi:

Deface dapat menjadi akibat dari kompromi, bukan seluruh proses serangannya.


Deface vs XSS

Keduanya juga berbeda.

XSS (Cross-Site Scripting) adalah vulnerability/attack technique yang memungkinkan script tertentu dijalankan dalam konteks browser pengguna.

Defacement adalah perubahan atau manipulasi tampilan/konten.

Dalam beberapa kondisi, XSS dapat digunakan untuk membuat tampilan halaman terlihat seperti telah di-deface, terutama jika script yang disisipkan mengubah DOM.

OWASP bahkan memberikan contoh XSS yang memodifikasi isi halaman sebagai bentuk site defacement. OWASP Wiki

Tetapi XSS tidak selalu menghasilkan deface, dan deface tidak selalu berasal dari XSS.


Deface vs Content Spoofing

Ada juga konsep content spoofing atau virtual defacement.

OWASP menjelaskan content spoofing sebagai kondisi ketika input pengguna yang tidak ditangani dengan benar dapat digunakan untuk menampilkan konten yang dimanipulasi dalam konteks domain yang dipercaya pengguna. OWASP Community

Perbedaannya secara sederhana:

Teknik Yang Dimanipulasi
Defacement Konten/tampilan website
XSS Eksekusi script di browser
Content spoofing Konten yang ditampilkan melalui aplikasi
DNS hijacking Resolusi/pengarahan domain
Phishing Menipu pengguna untuk memperoleh informasi

Satu insiden dapat melibatkan lebih dari satu teknik.


Dampak Deface terhadap Website

Deface memang terlihat seperti masalah tampilan.

Tetapi dampaknya dapat jauh lebih luas.

1. Reputasi

Pengunjung melihat bahwa website organisasi telah dikompromikan.

Hal ini dapat menurunkan kepercayaan terhadap:

  • perusahaan
  • sekolah
  • universitas
  • organisasi
  • toko online
  • instansi

2. Gangguan Operasional

Jika halaman utama tidak dapat digunakan, aktivitas bisnis dapat terganggu.

Contohnya:

  • pelanggan tidak dapat memperoleh informasi
  • landing page tidak berfungsi
  • formulir terganggu
  • transaksi terganggu
  • layanan online tidak tersedia

3. SEO

Website yang dikompromikan dapat mengalami masalah SEO jika penyerang menyisipkan:

  • spam pages
  • malicious redirects
  • hidden links
  • phishing content
  • konten berbahaya

Masalah keamanan dapat akhirnya berubah menjadi masalah search visibility.


4. Risiko Malware

Website yang telah dikompromikan dapat digunakan untuk mendistribusikan konten berbahaya.

CISA mencatat bahwa server web yang berhasil dikompromikan dapat disalahgunakan untuk mendistribusikan malware atau menyerang pihak lain. CISA


5. Kebocoran Data

Ini merupakan bagian yang sangat penting.

Deface tidak selalu berarti data telah dicuri.

Tetapi jika attacker sudah mendapatkan akses tertentu ke server, organisasi harus mempertimbangkan kemungkinan adanya aktivitas lain.

Pertanyaan yang perlu dijawab:

Apakah hanya halaman yang diubah?
atau
Apakah attacker mendapatkan akses lebih luas?

Karena itu insiden defacement sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sekadar masalah desain.


Bagaimana Mengetahui Website Terkena Deface?

Beberapa indikator yang dapat diperhatikan:

Tampilan berubah

Homepage tiba-tiba menunjukkan:

Hacked
Owned
Defaced

atau pesan lain yang tidak dibuat administrator.

File berubah

Timestamp atau hash file website berubah tanpa perubahan resmi.

Konten asing

Muncul:

  • halaman baru
  • link aneh
  • script tidak dikenal
  • redirect
  • akun administrator baru

DNS berubah

Domain tiba-tiba mengarah ke infrastructure berbeda.

Search engine menunjukkan konten mencurigakan

Google dapat menampilkan halaman atau snippet yang tidak sesuai dengan website.

Monitoring memberikan alert

Website monitoring mendeteksi perubahan pada:

  • HTTP response
  • HTML
  • hash
  • certificate
  • DNS
  • availability

Apa yang Harus Dilakukan Jika Website Terkena Deface?

Jangan langsung menghapus semua file.

Respons yang terburu-buru dapat menghilangkan bukti penting.

Workflow yang lebih baik:

Detect
  ↓
Contain
  ↓
Preserve Evidence
  ↓
Investigate
  ↓
Remove Persistence
  ↓
Restore
  ↓
Patch
  ↓
Monitor

1. Verifikasi Insiden

Pastikan perubahan memang bukan:

  • deployment baru
  • perubahan administrator
  • masalah cache
  • CDN issue
  • DNS propagation
  • kesalahan konfigurasi

2. Batasi Dampak

Jika diperlukan:

  • nonaktifkan sementara website
  • batasi akses administrator
  • putuskan akses tertentu
  • isolasi server yang terindikasi kompromi

Tujuannya mencegah attacker mempertahankan akses.


3. Simpan Bukti

Sebelum membersihkan sistem, simpan informasi yang relevan:

  • timestamp
  • log
  • screenshot
  • file mencurigakan
  • hash
  • access log
  • authentication log
  • perubahan DNS
  • informasi akun

Ini penting untuk investigasi.


4. Periksa Akun

Periksa:

  • administrator
  • hosting
  • SSH
  • FTP/SFTP
  • database
  • CMS
  • Git
  • cloud
  • registrar
  • DNS provider

Cari akun atau session yang tidak dikenal.


5. Cari Persistence

Jangan hanya mengembalikan homepage.

Jika attacker masih memiliki persistence, website dapat kembali di-deface.

Cari indikasi:

  • akun tambahan
  • file asing
  • scheduled task
  • webshell
  • API key
  • modified configuration
  • malicious plugin
  • unauthorized SSH key

6. Restore dari Backup Bersih

Jika tersedia backup yang valid:

Clean Backup
     ↓
Restore
     ↓
Patch
     ↓
Verify
     ↓
Online

Backup harus berasal dari titik waktu yang dipercaya.

Backup yang sudah terkompromikan tidak dapat dianggap sebagai backup bersih.


7. Reset Credential

Setelah insiden:

  • password administrator
  • hosting
  • database
  • SSH
  • FTP/SFTP
  • API keys
  • cloud account
  • DNS
  • registrar

perlu ditinjau dan, jika relevan, dirotasi.

Gunakan password unik dan MFA jika tersedia.


8. Patch Root Cause

Ini bagian yang sering dilupakan.

Jika website hanya direstore:

Deface
 ↓
Restore
 ↓
Online

tetapi vulnerability masih ada:

Vulnerability
 ↓
Attacker
 ↓
Deface lagi

Karena itu root cause harus ditemukan dan diperbaiki.


9. Monitoring Setelah Recovery

Setelah website kembali online, monitoring menjadi sangat penting.

Pantau:

  • file integrity
  • DNS
  • SSL/TLS
  • HTTP status
  • content changes
  • login
  • administrator account
  • server logs
  • suspicious requests

Tujuannya mengetahui apakah serangan kembali terjadi.


Cara Mencegah Website dari Deface

1. Update Software

Selalu pantau:

  • CMS
  • plugin
  • theme
  • framework
  • dependency
  • server software

2. Gunakan MFA

Terutama untuk:

  • admin CMS
  • hosting
  • cloud
  • registrar
  • GitHub/GitLab
  • email administrator

3. Gunakan Password Unik

Jangan menggunakan satu password untuk banyak layanan.


4. Terapkan Least Privilege

Tidak semua user membutuhkan akses administrator.

Contoh:

Content Editor
     ↓
Edit Content

Administrator
     ↓
System Configuration

Batasi privilege sesuai kebutuhan.


5. Amankan File Upload

Validasi:

  • extension
  • MIME type
  • content
  • size
  • storage location
  • execution permission

6. Gunakan Security Headers

Security headers dapat menjadi bagian dari defense-in-depth.

Contohnya:

Content-Security-Policy
Strict-Transport-Security
X-Content-Type-Options
Referrer-Policy
Permissions-Policy

OWASP menjelaskan bahwa Content Security Policy dapat membantu mengurangi risiko XSS dengan membatasi sumber script yang boleh dimuat browser. OWASP Cheat Sheet Series

Security headers bukan solusi tunggal untuk mencegah deface, tetapi merupakan salah satu lapisan pertahanan aplikasi web.


7. Gunakan Backup

Backup harus:

  • rutin
  • teruji
  • memiliki beberapa versi
  • disimpan secara aman
  • dapat dipulihkan

Yang paling penting bukan hanya:

"Saya punya backup."

Tetapi:

"Saya sudah pernah menguji restore backup tersebut."


8. Website Monitoring

Monitoring dapat mendeteksi perubahan sebelum pengguna melaporkannya.

Contohnya:

Website
   ↓
Monitoring
   ↓
Change Detection
   ↓
Alert
   ↓
Security Team

Semakin cepat perubahan terdeteksi, semakin cepat pula organisasi dapat melakukan containment.


9. Vulnerability Assessment

Lakukan assessment secara berkala untuk menemukan:

  • outdated software
  • misconfiguration
  • vulnerable component
  • exposed service
  • weak authentication
  • security header issues
  • exposed files
  • attack surface

10. Penetration Testing

Penetration testing dapat digunakan untuk menguji keamanan aplikasi dan infrastructure secara terkontrol dengan scope serta izin yang jelas.

Tujuannya bukan sekadar mencari "bisa deface atau tidak".

Tetapi memahami:

Initial Access
      ↓
Privilege
      ↓
Impact
      ↓
Detection
      ↓
Remediation

Apakah Belajar Deface Berarti Harus Men-deface Website Orang?

Tidak.

Belajar cybersecurity tidak membutuhkan tindakan ilegal terhadap website orang lain.

Untuk latihan, gunakan:

  • lab lokal
  • CTF
  • DVWA
  • OWASP Juice Shop
  • PortSwigger Web Security Academy
  • server milik sendiri
  • environment yang memang memberikan izin pengujian

Dengan begitu, teknik keamanan dapat dipelajari tanpa merugikan pihak lain.


Deface dalam CTF

Defacement juga dapat dipelajari dalam lingkungan CTF.

Misalnya peserta diberikan:

Lab Website
     ↓
Vulnerability
     ↓
Controlled Exploitation
     ↓
Flag

Perbedaannya sangat penting:

CTF / Lab
= Ada izin

Website orang lain
= Tidak otomatis ada izin

Kemampuan teknis yang sama dapat memiliki konsekuensi yang sangat berbeda tergantung lingkungan dan otorisasinya.


Aspek Hukum di Indonesia

Dalam konteks Indonesia, tindakan terhadap sistem elektronik tanpa hak dapat masuk ke ranah hukum.

UU ITE sebagaimana diubah melalui UU No. 1 Tahun 2024 tetap mengatur larangan terkait akses tanpa hak atau melawan hukum terhadap komputer dan/atau sistem elektronik. Ketentuan Pasal 30 mengatur akses tanpa hak, termasuk akses dengan cara menerobos atau menjebol sistem pengamanan. UU ITE juga mengatur tindakan tanpa hak terhadap informasi elektronik, termasuk perubahan, penambahan, pengurangan, perusakan, penghilangan, pemindahan, atau penyembunyian informasi elektronik dalam Pasal 32. JDIH Kemkomdigi

Karena itu, melakukan deface terhadap website milik orang lain tanpa izin bukanlah aktivitas belajar cybersecurity yang aman secara hukum.

Sebaliknya, penetration testing atau security assessment harus dilakukan berdasarkan izin, scope, dan aturan pengujian yang jelas.


Deface Tidak Selalu Berarti Sistem Sepenuhnya Dikuasai

Ini juga penting.

Misalnya homepage berubah.

Kita belum bisa langsung menyimpulkan:

"Attacker sudah menguasai seluruh server."

Bisa saja:

Homepage
   ↓
Modified

Tetapi bisa juga:

Homepage
   ↓
Web Application
   ↓
Server
   ↓
Cloud Account

telah dikompromikan.

Karena itu setelah defacement terjadi, organisasi perlu melakukan investigasi untuk menentukan scope kompromi.


Deface dan Security Monitoring

Defacement menunjukkan mengapa monitoring penting.

Tanpa monitoring:

Attacker
   ↓
Modify website
   ↓
Website online
   ↓
Berjam-jam tidak diketahui

Dengan monitoring:

Attacker
   ↓
Modify website
   ↓
Monitoring detects change
   ↓
Alert
   ↓
Security team
   ↓
Response

Deteksi cepat dapat mengurangi waktu exposure.


Kesimpulan

Deface adalah bentuk website compromise ketika konten atau tampilan website diubah tanpa otorisasi.

Tampilan "HACKED BY..." yang terlihat oleh pengunjung hanyalah bagian paling kasatmata dari sebuah insiden.

Di belakangnya bisa terdapat:

Vulnerability
      ↓
Credential Compromise
      ↓
Unauthorized Access
      ↓
Privilege
      ↓
File / Database / DNS Modification
      ↓
DEFACEMENT

Karena itu, ketika website terkena deface, jangan hanya mengganti homepage kembali.

Yang jauh lebih penting adalah mencari tahu:

  1. Bagaimana attacker masuk?
  2. Apa yang berhasil mereka akses?
  3. Apakah ada persistence?
  4. Apakah credential ikut terdampak?
  5. Apakah terdapat malware atau webshell?
  6. Apakah data ikut diakses?
  7. Apa root cause-nya?
  8. Bagaimana mencegah kejadian yang sama terulang?

Website security bukan hanya soal membuat website terlihat aman, tetapi memastikan aplikasi, akun, server, domain, dependency, dan proses operasionalnya memiliki lapisan perlindungan yang memadai.


SIBRA Security untuk Security Assessment dan Perlindungan Website

Risiko defacement menunjukkan bahwa keamanan website perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari external attack surface, aplikasi web, konfigurasi server, akun administrator, security headers, hingga monitoring.

SIBRA Security menyediakan layanan cybersecurity untuk membantu organisasi dan pemilik website melakukan:

  • Security Assessment
  • Vulnerability Assessment
  • Penetration Testing
  • Web Application Security Testing
  • Security Hardening
  • Security Headers Assessment
  • Website Monitoring
  • Pemeriksaan external attack surface
  • Audit konfigurasi keamanan
  • Konsultasi teknologi dan cybersecurity

Assessment dapat membantu mengidentifikasi kelemahan yang berpotensi dimanfaatkan sebelum berubah menjadi insiden seperti defacement, serta membantu menyusun langkah remediation berdasarkan temuan yang ditemukan.

Jika website Anda ingin diperiksa dari sisi keamanan, SIBRA Security dapat membantu melakukan assessment secara terstruktur dengan scope dan izin pengujian yang jelas.